DUMAI – Aroma kue hangat kini tak hanya berasal dari dapur rumah tangga, tetapi juga dari balik jeruji Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Dumai. Lewat program pembinaan kemandirian di bidang tata boga, warga binaan berhasil menyulap keterbatasan menjadi peluang dengan memproduksi aneka kue yang kini dipasarkan untuk masyarakat.
Setiap hari, dapur pembinaan di Rutan Dumai dipenuhi aktivitas. Warga binaan yang telah mendapat pelatihan tampak sibuk menimbang bahan, mengaduk adonan, hingga mengemas produk siap jual.
Hasilnya bukan main-main: mantau lembut, bolu gulung, churros renyah, hingga donat manis yang menggoda selera.
Semua produk dipasarkan dengan label “Rumai Cookery”, brand unggulan hasil program pembinaan kemandirian Rutan Dumai. Meski diproduksi di dalam rutan, kualitas dan kebersihan tetap menjadi prioritas utama dengan pengawasan ketat petugas.
Tak hanya soal rasa, keamanan produk juga menjadi perhatian serius. Produk Rumai Cookery telah mengantongi sertifikat halal dan terdaftar di BPOM, sehingga masyarakat bisa menikmati tanpa rasa khawatir.
Kepala Rutan Dumai, Enang Iskandi, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar aktivitas mengisi waktu. Lebih dari itu, pembinaan keterampilan menjadi bekal nyata bagi warga binaan untuk membangun masa depan setelah bebas nanti.
“Kami ingin mereka memiliki keterampilan yang bisa menjadi modal usaha maupun peluang kerja. Harapannya, setelah kembali ke masyarakat, mereka dapat hidup mandiri dan produktif,” ujarnya.
Program ini menjadi bukti bahwa pembinaan di dalam rutan dapat melahirkan harapan baru. Dari balik jeruji, warga binaan Rutan Dumai kini tak hanya menghasilkan kue lezat, tetapi juga membangun kepercayaan diri, kemandirian, dan kesempatan untuk memulai lembaran hidup yang lebih baik.***