Pedagang UMKM di CFN, CFD Bingung dan Cemas Jelang Dumai Festival 2025: “Kami Ingin Ikut Meramaikan, Tapi Biayanya Terlalu Berat”

Minggu, 16 November 2025 | 19:01:20 WIB

DUMAI – Menjelang pelaksanaan Dumai Festival 2025 yang dijadwalkan berlangsung pada 19–31 Desember, sejumlah pedagang UMKM yang biasa berjualan di kawasan Car Free Night (CFN) dan Car Free Day (CFD) Jalan HR Soebrantas mulai merasakan kegelisahan. Bukan soal keramaian atau persiapan dagangan, tetapi karena adanya biaya partisipasi yang dinilai memberatkan mereka.

Selama bertahun-tahun, kawasan CFN dan CFD menjadi ruang hidup bagi para pedagang kecil—tempat mereka menggantungkan harapan, menyambung rezeki, dan berinteraksi dengan pelanggan tetap yang sudah seperti keluarga sendiri. Di sinilah mereka menata meja sederhana, menggantung lampu seadanya, dan menawarkan makanan atau barang dagangan yang menjadi andalan masing-masing.

Namun, suasana yang biasanya hangat menjelang akhir tahun kini berubah menjadi kecemasan. Para pedagang mengaku terkejut ketika diberi tahu bahwa bagi yang ingin tetap berjualan selama Dumai Festival 2025, mereka diwajibkan membayar biaya sebesar Rp4 juta, ditambah uang muka 50 persen sebagai tanda jadi.

Bagi pedagang kecil, angka itu bukan sekadar biaya. Itu adalah sebagian besar modal kerja—dan bagi sebagian lainnya, bisa jadi adalah uang makan satu bulan keluarga.

“Kami tak menolak festivalnya, tapi kami butuh dipahami bahwa kami kecil”

Salah seorang pedagang yang sudah berjualan di CFD sejak enam tahun lalu bercerita sambil merapikan gerobaknya. Baginya, CFD bukan hanya tempat berdagang, melainkan ruang untuk bertahan hidup.

“Kami sangat mendukung Dumai Festival. Ramai itu bagus, rezeki kami pun ikut ramai. Tapi kalau harus bayar Rp4 juta, bagaimana kami sanggup? Kami ini pedagang kecil, bukan tenant besar,” ujarnya lirih.

Ia mengaku selama ini tidak pernah dipungut biaya untuk berjualan di kawasan tersebut. Karena itu, tiba-tiba diminta membayar jutaan rupiah membuatnya bingung.

“Kalau festivalnya memang ingin meriah, kami sebenarnya ingin ikut meramaikan. Tapi kalau biayanya sebesar itu, kami terpaksa mundur, padahal ini satu-satunya tempat kami mencari nafkah.”

Festival besar, harapan besar—tapi ruang bagi pedagang kecil jangan mengecil

Bagi para pedagang UMKM, festival akhir tahun seperti ini sebenarnya menjadi momen penting. Keramaian biasanya membawa rezeki lebih. Pembeli yang datang dari berbagai kecamatan bahkan luar kota membuat omzet mereka meningkat dibanding hari biasa.

Karena itu, banyak pedagang berharap bisa ikut berjualan tanpa harus memilih antara membayar biaya besar atau kehilangan sumber penghasilan selama hampir dua minggu pelaksanaan festival.

Harapan untuk Wali Kota: kebijakan yang lebih berpihak pada UMKM

Para pedagang CFN–CFD berharap Wali Kota Dumai, H. Paisal, dapat memberikan perhatian khusus terhadap kondisi mereka. Mereka meyakini pemerintah memiliki ruang kebijakan yang bisa menghadirkan solusi lebih manusiawi, tanpa menghambat kelangsungan festival.

“Kami tahu pemerintah ingin membuat acara besar. Kami bangga. Tapi tolong, beri kami ruang juga. Kami bukan minta gratis, kami hanya minta kebijakan yang sesuai dengan kemampuan kami sebagai UMKM lokal,” ujar seorang pedagang lainnya.

Sebagian pedagang bahkan berharap dibuatkan skema khusus, misalnya subsidi, pembagian zona UMKM tanpa biaya, atau opsi pembayaran yang lebih ringan agar mereka tetap bisa berdagang tanpa kehilangan momentum akhir tahun.

Tanpa mereka, suasana festival tak akan sama

CFN dan CFD selama ini dikenal sebagai denyut nadi UMKM Dumai—perpaduan energi warga yang ingin berekreasi dan kreativitas pedagang kecil yang menawarkan jajanan khas, kuliner rumahan, hingga kerajinan sederhana. Suasana meriah yang terbentuk justru hadir karena keberadaan mereka.

Karena itu, banyak warga yang merasa festival sebesar Dumai Festival 2025 justru akan kehilangan salah satu daya tariknya jika pedagang-pedagang kecil yang selama ini menyemarakkan malam minggu dan pagi Minggu di HR Soebrantas tidak ikut terlibat.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kota Dumai terkait keluhan para pedagang tersebut. Sementara itu, para pedagang masih menunggu harapan: bahwa suara mereka didengar, dan bahwa panggung besar akhir tahun tetap memberi ruang bagi pelaku UMKM kecil yang selama ini menjadi bagian penting dari wajah kota.***
 

Terkini