DUMAI – Kepercayaan anggota kembali mengantarkan Bambang Prayetno, S.H., ke kursi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Dumai. Ia terpilih secara aklamasi untuk kedua kalinya dalam Konferensi Kota (Konferkot) ke-10 PWI Dumai yang digelar di Hotel Grand Zuri Lantai II, Sabtu (31/10/2026).
Kemenangan tanpa voting tersebut menjadi sinyal kuat kepercayaan anggota terhadap kepemimpinan Bambang untuk melanjutkan roda organisasi wartawan terbesar di Indonesia itu di Kota Dumai selama periode 2026-2029.
Namun, terpilih kembali bukan sekadar soal melanjutkan jabatan. Ada pekerjaan rumah dan tanggung jawab besar yang menanti, terutama memperkuat soliditas organisasi, meningkatkan kualitas wartawan, serta menjaga marwah dan independensi pers di tengah tantangan era digital.
Konferkot ke-10 PWI Dumai kali ini mengusung tema "Konsolidasi Organisasi, Penguatan Profesionalisme, dan Peneguhan Etika Pers di Era Digital untuk Mendukung Pembangunan Menuju Dumai Kota Idaman".
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua PWI Provinsi Riau Raja Isyam Azwar, Wakil Wali Kota Dumai Sugiyarto, Sekretaris PWI Riau N. Doni Dwi Putra, Wakil Sekretaris Jinto Lumban Gaol, Wakil Ketua Bidang OKK Bambang Irawan Syahputra, serta unsur Forkopimda Kota Dumai.
Dalam konferensi tersebut, tercatat PWI Dumai memiliki 75 anggota. Sebanyak 46 orang masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT), sementara 39 anggota hadir secara langsung. Forum kemudian dinyatakan memenuhi kuorum untuk menjalankan agenda organisasi dan menetapkan kepemimpinan periode berikutnya.
Usai ditetapkan sebagai ketua terpilih, Bambang Prayetno menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kepercayaan yang kembali diberikan oleh seluruh anggota.
"Ini merupakan amanah dan kepercayaan yang kedua kalinya diberikan kepada saya. Terima kasih kepada seluruh anggota yang telah memberikan kepercayaan ini. Tentu amanah tersebut akan saya jalankan dengan penuh tanggung jawab," ungkap Bambang.
Ia menegaskan, kepengurusan 2026-2029 akan melanjutkan visi dan misi yang telah dibangun sebelumnya. Meski demikian, berbagai hal yang masih perlu dibenahi akan menjadi perhatian agar PWI Dumai semakin solid, tertata, dan mampu menjawab kebutuhan anggotanya.
Menurut Bambang, konsolidasi internal dan peningkatan profesionalisme wartawan menjadi prioritas penting. PWI harus tetap menjadi rumah bersama bagi seluruh anggotanya, sekaligus menjadi wadah untuk memperkuat kompetensi jurnalistik dengan berpedoman pada kode etik jurnalistik.
PWI Jangan Hanya Besar Nama, tetapi Harus Bermanfaat
Sementara itu, Ketua PWI Provinsi Riau, Raja Isyam Azwar, mengapresiasi perjalanan organisasi PWI Dumai. Ia berharap kepengurusan yang baru mampu menjaga kekompakan, soliditas, serta kehormatan organisasi.
Dalam arahannya, Raja Isyam menitipkan tiga pesan penting kepada kepengurusan terpilih, yakni menjaga marwah organisasi, menjadikan jabatan sebagai amanah, serta membangun organisasi wartawan yang profesional dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan organisasi pers tidak hanya diukur dari jumlah anggota atau keberadaan kepengurusan, tetapi juga dari kualitas, integritas, dan kontribusinya bagi publik.
Di sisi lain, Wakil Wali Kota Dumai Sugiyarto menegaskan bahwa Pemerintah Kota Dumai membutuhkan PWI sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah.
Menurutnya, PWI tidak hanya berperan menyampaikan informasi kepada masyarakat, tetapi juga dapat memberikan kritik, masukan, dan saran konstruktif terhadap kebijakan pemerintah.
Sugiyarto sekaligus secara resmi membuka Konferkot ke-10 PWI Dumai yang menjadi momentum evaluasi organisasi sekaligus penetapan kepemimpinan baru.
Dengan kembali dipercayanya Bambang Prayetno, publik kini menanti bagaimana PWI Dumai menjalankan amanah tiga tahun ke depan. Tantangannya bukan hanya menjaga kekompakan internal, tetapi juga memastikan wartawan semakin profesional, independen, berintegritas, dan tetap berpihak pada kepentingan publik.
Sebab, di tengah derasnya arus informasi digital dan maraknya berita yang belum terverifikasi, keberadaan pers yang kredibel dan berpegang teguh pada etika jurnalistik menjadi semakin penting.***