Viral! Pernyataan Supir Bus: Lebih Baik Hilangkan Satu Nyawa

PERISTIWA37 Dilihat

JAKARTA – Video itu viral di media sosial. Salah satunya diunggah oleh Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni di akun instagram pribadinya.

Dikutip Penjurupos dari detik.com, Di media sosial heboh pernyataan sopir bus yang membahayakan pengendara lain.

Sopir bus itu bilang lebih baik menghilangkan satu nyawa di mobil kecil daripada nyawa lebih banyak orang di dalam bus.

“Hati-hati kalo di jalan mobil kamu dipepet bus,” begitu tertulis dalam video yang viral.

Video itu menggambarkan perdebatan sopir bus dengan pengendara lain. Diduga perdebatan ini terjadi setelah ada yang membahayakan di jalan.

Sampai-sampai, terlontar kata-kata dari seorang sopir bus yang mengatakan bahwa lebih baik menghilangkan satu nyawa di mobil kecil daripada satu bus.

“Ya ibu, maaf. Sekarang gini, kalau kita sopir bus, lebih baik hilangin satu nyawa mobil kecil daripada satu bus,” kata sopir bus tersebut.

Pernyataan sopir bus itu tentu menuai perdebatan. Sebab, pemikiran sopir bus seperti ini bakal membahayakan pengguna jalan lain.

Praktisi keselamatan berkendara yang juga Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, sangat menentang kata-kata sopir bus tersebut. Bahkan dia bilang, sopir bus yang mengeluarkan kata-kata itu harus dicabut SIM-nya.

“Ya kalau bawa busnya agresif begitu dekat sama kecelakaan akhirnya keluarlah moto ‘lebih baik menyelamatkan nyawa penumpang bus yang puluhan dan korbankan satu orang lain’,” kata Sony kepada detikcom, Minggu (25/6/2023).

“Pengemudi seperti ini SIM-nya harus dicabut. Karena selain mindset-nya sudah salah, berisiko tinggi kecelakaan, juga pasti SIM-nya abal-abal,” tegas Sony.

Kemungkinan, menurut Sony, kata-kata itu dijiplak dari aturan kereta api. Namun perlu hati-hati, jenis kendaraan dan tempat berjalannya saja sudah berbeda antara bus dengan kereta api.

“Seorang pengemudi yang ber-SIM B itu kategorinya advance, sudah selayaknya berkendara tidak dengan mengandalkan keterampilan, tapi lebih menonjolkan etika, kesadaran dan kewaspadaan. Karena dengan itulah dia dianggap kompeten,” ujar Sony.

“Kalau masih mau ngebut-ngebut, agresif dll pasti dia salah jurusan. Harusnya jadi pembalap. Kalaupun mempraktikkan keterampilannya bak pembalap, salah juga. Karena bukan pada tempatnya di jalan umum,” pungkas Sony.***

Editor: Redaksi

Komentar