32 Drone Meledak, Rusia Kembali Hujani Kota-kota di Ukraina

BERITA50 Dilihat

KYIV – Otoritas Ukraina menyatakan pasukannya berhasil menembak jatuh sekitar 32 drone dari total 35 drone tempur Shahed buatan Iran, yang digunakan pasukan Rusia.

Serangan-serangan drone itu diluncurkan pasukan Moskow dari wilayah Bryansk dan Laut Azov, Seperti dilansir Reuters, Selasa (20/6/2023),

Rusia kembali melancarkan rentetan serangan udara terhadap beberapa kota-kota di Ukraina pada Selasa (20/6) dini hari.

Ukraina mengklaim berhasil menembak jatuh puluhan drone Moskow dalam serangan terbaru yang menargetkan fasilitas militer dan infrastruktur di ibu kota Kyiv dan beberapa kota lainnya.

Tidak disebutkan lebih lanjut soal korban jiwa akibat rentetan serangan udara terbaru Rusia itu.

Serangan udara itu dilancarkan Moskow saat Kyiv memulai serangan balasan yang diklaim telah berhasil merebut kembali wilayah seluas 113 kilometer persegi yang diduduki pasukan Moskow.

Angkatan Udara Ukraina dalam pernyataan via Telegram melaporkan bahwa sistem pertahanan udara telah beraksi di sebagian besar wilayah Ukraina.

“Namun, target utama dari serangan drone buatan Iran adalah wilayah Kyiv. Lebih dari dua lusin (drone) Shahed telah dihancurkan di sini,” sebut Angkatan Udara Ukraina dalam pernyataannya.

Kepala otoritas militer Kyiv, Sehiy Popko, secara terpisah melaporkan bahwa sirene peringatan serangan udara di ibu kota Ukraina berbunyi selama tiga jam. Dia tidak memberikan informasi detail soal kerusakan yang terjadi akibat serangan terbaru itu.

Sebuah fasilitas infrastruktur penting terkena serangan di wilayah Lviv, yang berjarak 70 kilometer dari perbatasan Polandia, dan beberapa rute trem diubah pada jam-jam sibuk pagi hari.

“Serangan itu mengenai fasilitas yang sangat penting. Ada tiga serangan yang mengenai target fasilitas,” tutur gubernur setempat, Maksym Kozytskiy.

Pernyataan militer Ukraina, yang didasarkan pada informasi awal, menyebut Rusia telah menembakkan sedikitnya tujuh rudal ke wilayah Zaporizhzhia.

Laporan itu tidak bisa diverifikasi secara independen oleh Reuters. Pemerintah maupun militer Rusia belum memberikan tanggapan resmi atas laporan Ukraina itu, demikian dikutip dari detik.com.***

Editor: Redaksi

Komentar